Udah lama banget kayaknya saya tidak berbagi cerita dengan semua, bertukar pikiran dan perjalanan hidup untuk lebih mengenal warna warni hidup agar lebih positif tentunya. Diawali ketergesa gesaan perjalanan jumat 04 Maret 2011 lalu, untuk urusan tertentu saya sedikit tidak menghiraukan kepentingan lain dalam aktifitas saya. Bertemu dengan orang - orang yang menganggap waktu adalah bagian terpenting dalam hidup yang singkat ini. Sedikit saya mencoba mengingkari anggapan tersebut, tapi saya baru sadar itupun yang muncul dalam anggapan saya. Persyaratan yang kurang lengkap memaksa saya mengambil inisiatif melakukan perjalan singkat berikutnya. Seketika yang muncul dalam pikiran saya adalah ketidak mauan saya menjadi beban dan penghalang bagi seseorang atau sesuatu, Karena saya inginkan kemajuan dan bukan kemunduran. Dari Blitar saya bergegas kembali ke kost di tulungagung, yang saya tempuh dalam waktu 30 menit. 15 menit lebih awal dari jarak hitungan waktu semestinya.
Selepas mandi dan menata keperluan, seorang sahabat mengajak saya mbakso di tempat 'biasa' bagi kami. Belum juga tersaji pesanan kami, seorang nenek renta menghampiri meja tempat kami duduk dan menawarkan beragam cemilan, yang ia tempatkan dalam keranjang usang. Bahkan saya masih ingat seberapa serak dan santun nenek itu berbicara. Tak tega rasanya jika saya tidak membeli dagangannya, meski sahabat saya melarang sambil sedikit melirik keranjang dagangan yang ditentengnya. Sedikit saya membelalak, dengan maksud "what the hell with that!!!" Niat saya bagaimana agar si penjual renta itu segera pulang. tak banyak yang saya beli, tapi rentetan doa yang dia ucap untuk saya sanggup menentramkan hati, sekejab membisukan perbincangan pribadi saya dan sahabat. Tak ingat lagi apa yang manjadi topik hangat tadi. Sejurus kemudian ia berpindah ke meja lain untuk menawarkan sisa dagangannya. Tampak lelah bukan jadi penghalang baginya, sesantai ia berjalan terseok menyeret kaki dengan luka, yang saya tidak tahu itu apa.
Lebih dari 20 menit saya menghabiskan waktu di tempat yang mempertemukan saya dengan penjual renta itu. Sesekali saya terkenang, punyakah ia saudara dan kerabat untuk berlindung. Merasa cukup, sayapun berlalu dan meninggalkan depot bakso yang masih sesak dijejali pembeli yang kebanyakan penumpang kereta yang kebetulan menunggu jemputan. Tak lagi saya lihat wajah dengan keriput tebal itu lagi, oh ya.. Hanifah, itu namanya... dengan jelas saya merekam nama itu untuk sengaja saya ingat. Sesuai arti namanya 'Muslimah yang teguh', sekeluar parking area, tiba tiba pandangan saya berhenti dan makin tajam pada satu titik pandang. Perempuan tua itu duduk tanpa alas di pojok pintu stasiun, bagian paling sepi saat itu. Memaksa saya menghentikan teman saya yang ingin segera beranjak dari tempat itu. Tertegun saya melihat kebahagian yang terpancar di raut nenek itu, turut bahagia rasanya membayangkan ia menghitung kekayaannya lembar per lembar. Setidaknya, itulah bagian yang harus diterimanya dari nikmat Tuhan yang telah dijanjikan. Sesekali ia mendekap lembaran uang usang itu ke dada, dan sesekali pula memijat kaki dan pinggangnya bergantian. Teguran teman membangunkan saya dari imajinasi saya, sejenak mengantarkan nenek itu susah payah berdiri dan berlalu...! Masih, saya masih melihatnya menenteng keranjang tua yang telah kosong. Sangat jelas saya lihat perempuan tua itu telah melakukan yang terbaik hari itu. Esok ia tak menjanjikan akan kembali berjuang atau menghentikan langkahnya.
Teman, Point penting yang saya dapatkan dari pengalaman ini, Allah telah menentukan jalan setiap umat dengan cara yang indah. Berusaha dan berdoa adalah rangkaian yang tidak dapat dipisahkan, karena takaran kebahagian telah ditentukan Sang Pemilik segala ciptaan. Kita semua bersaudara, tergantung kita menganggapnya dari sudut pandang yang mana. Teman, seperti nenek tadi yang bertahan dengan keikhlasan dan keteguhan hati untuk berjuang, melakukan yang terbaik untuk hari ini, hanya untuk hari ini. Kita tak pernah tau takdir apa yang Allah siapkan untuk esok, dan benar benar kebodohan jika kita terus meratapi peristiwa kemarin dan menghentikan langkah untuk bertemu hari ini.
Semoga semua menjadi lebih indah dengan berbagi.... o ya, saya masih punya lanjutan perjalanan yang ingin saya bagi untuk semua, tapi di lain hari, nunggu mood nulis saya muncul.. hehe yang penting saya tidak pernah lupa setiap detik perjalan syarat makna yang saya lakukan..
Salam manis untuk semua
Aditya Priambodo


